“Rusia telah menginvasi negara tetangga yang berdaulat dan mengancam pemerintahan demokratis yang terpilih oleh rakyatnya. Tindakan seperti ini tidak bisa diterima dalam abad ke-21 ini,”
(George W Bush).
Beginilah reaksi Bush ketika mengomentari konflik antara Georgia dengan Rusia, seakan lupa dengan perbuatannya selama ini Bush begitu entengnya meyakinkan dunia bahwa di abad dua satu seperti sekarang Negara yang mempunyai kedaulatan tidak boleh diintervensi oleh Negara lain. Kebusukan inilah sekarang yang sedang dipertontonkan oleh sang polisi dunia (baca; Amerika), sementara semua orang telah lupa sejenak dengan perilaku biadab negeri Paman Sam tersebut terhadap Negara di belahan dunia yang lain, belum lagi ditambah dengan berita tidak seimbang karena pengaruh media global yang juga dikuasai sang negara adidaya tersebut.
Reaksi berlebihan dari Negara Paman Sam ini membuktikan adanya kepentingan besar yang terganggu akibat konflik antara Georgia dengan Rusia di Ossetia Selatan, sebagaimana diketahui konflik yang meletus 8 Agustus 2008 itu awalnya dipicu oleh serangan membabi-buta Georgia atas wilayahnya yang memberontak Ossetia Selatan di bawah dukungan NATO. Georgia mengerahkan kekuatan udara penuh untuk mem bom bardir ibukota Ossetia Selatan yaitu Tskhinvali, hingga mengakibatkan terbunuhnya sekitar 1400 orang dan 10 diantaranya merupakan pasukan perdamaian Rusia.
Namun balasan dari Negara Beruang Putih justru diluar prediksi para pengamat, Rusia ternyata begitu serius mengerahkan alteri berat untuk membalas serangan Georgia. Ini membuktikan bahwa Rusia telah lama memendam kebencian terhadap Georgia akibat perluasan pengaruh NATO sampai ke perbatasan-perbatasan Rusia.
Presiden Georgia Mikhail Saakashvili Sejak berkuasa di Georgia tahun 2003 melalui “revolusi bunga” , terlihat semakin berusaha menjauh dari pengaruh politik Rusia. Bahkan berusaha menguasai wilayah Abkhazia dan Ossetia Selatan yang pada tahun 1992 menyatakan memerdekaan diri dari Georgia secara sepihak dengan mendapat dukungan penuh dari Rusia.
Akibat langkah-langkah politik dari Mikhail Saakashvili yang cenderung pro barat dan AS (Amerika Serikat), keberadaan Georgia praktis menjadi sentra bagi kepentingan AS di kawasan Asia Tengah. Georgia juga menjadi Negara sekutu bagi NATO dan berusaha untuk terlibat penuh di dalam keanggotaannya.
Sejarah Ossetia dimulai sejak tahun 1878. Pasca Revolusi Bolseviks, Rusia membagi Ossetia menjadi dua bagian. Ossetia Utara masuk menjadi bagian wilayah Rusia dan Ossetia Selatan ke Georgia. Pada 28 November 1991, Ossetia menyatakan memerdekakan diri dari Georgia secara sepihak, namun kemerdekaan Ossetia tidak mendapat pengakuan internasional. Pasca kemerdekaan Ossetia, terjadi konflik bersenjata antara pasukan Georgia dan gerilyawan Ossetia dan berakhir pada tahun 1992 dengan disepakatinya kesepakatan damai. Dalam kesepakatan itu, kedua pihak setuju pasukan perdamaian Rusia ditempatkan di wilayah perbatasan antara Georgia dengan Ossetia Selatan. Namun pada tahun 2004, Presiden Georgia Mikhail melancarkan serangan militer besar-besaran terhadap gerilyawan Ossetia.
Tahun 2006, Ossetia Selatan melakukan referendum untuk menentukan nasib dirinya sendirinya. Hasil referendum itu menyetujui Ossetia merdeka terlepas dari Georgia dan pada tahun yang sama Ossetia menyelenggarakan Pemilu Presiden Ossetia. Presiden Edwadi Kukuti sebagai presiden terpilih pertama Republik Ossetia.
Antara Rusia dan Amerika
Rusia sebagai Negara yang dikenal mempunyai kekuatan militer besar telah menjadi lawan politik Amerika semenjak masih menyandang nama besar Uni Soviet, namun pasca perang dingin antara blog barat dan timur yang ditandai dengan runtuhnya soviet hubungan kedua Negara mulai membaik disebabkan adanya kesamaan pandangan terhadap bahaya komunisme.
Dalam perjalanannya kemudian, walaupun kedua Negara mempunyai kesamaan dari sisi ideologi namun secara langkah politik dan kepentingan keduanya sangat jauh berbeda. Amerika sebagai Negara adidaya dunia kerap kali menginginkan agar Rusia mengikuti langkah politiknya dalam upaya menancapkan pengaruh di dunia, di lain pihak sebagai bekas negara adidaya (saat masih Soviet) Rusia juga mempunyai gengsi dan nilai tawar yang tidak bisa diremehkan didalam konstelasi politik dunia, terlebih lagi keduanya juga memiliki hak veto di dalam dewan keamanan PBB.
Karena seringnya mendapat ganjalan dari negara-negara yang memiliki hak veto di DK-PBB, akhirnya Amerika merubah taktik politiknya dengan mencoba menguasai NATO. NATO adalah sebuah aliansi militer regional yang mencari dukungan solidaritas diantara para anggotanya jika seandainya terjadi serangan militer ke negara anggotanya. NATO terbentuk setelah Perang Dunia II sebagai sebuah kesepakatan pertahanan Eropa disebabkan ketakutan terhadap merajalelanya kekuatan Uni Soviet dan Negara Pakta Warsawa. Di kemudian hari NATO lebih menjadi alat kepentingan AS disebabkan dominasi AS yang kuat di dalam tubuh NATO, sebagai imbalan atas perlindungan terhadap serangan soviet (saat masih berkuasa) ke Negara-negara yang bernaung di bawahnya maka Amerika dibiarkan menentukan setiap arah kebijakan NATO.
Seiring dengan nafsu berkuasa yang menggebu-gebu Amerika kemudian mencoba meluaskan pengaruhnya ke bekas-bekas Negara Uni Soviet di wilayah Asia Tengah dengan menggunakan kekuatan NATO, dalam kasus konflik Ossetia Selatan Georgia mutlak menjadi kepanjangan tangan NATO di wilayah tersebut, inilah yang membuat kemarahan Rusia.
Awalnya rusia telah memperingatkan Amerika agar tidak mengembangkan pengaruhnya ke negara tetangga yang berbatasan dengan Rusia dan mengancam akan melawan apabila tetap dilakukan. Namun keberadaan Georgia yang terletak di titik pengiriman minyak bumi dari Kaspia dan Asia Tengah menuju Eropa dan Amerika Serikat (AS) menjadikan Negara Paman Sam tersebut terus berupaya agar dapat menguasainya tanpa mengindahkan lagi amaran dari pihak Rusia.
Dengan menggunakan tangan Georgia, AS melaui NATO berusaha mempersempit gerak Rusia di kawasan Balkan agar dapat meminimalisir setiap upaya yang dapat menghambat kepentingannya. Amerika mulai memprovokasi konflik agar wilayah-wilayah yang mempunyai hubungan dengan Rusia menjadi takut melakukan diplomasi diakibatkan oleh ancaman Georgia yang dibekingi NATO.
Rusia Membangun Poros Dukungan
Dalam kasus Georgia di Ossetia Selatan, isu yang menyudutkan Rusia sebenarnya sengaja dikembangkan AS untuk menekan kekuatan negara Beruang Putih yang semakin hari semakin kuat. Dalam kancah internasional, sekalipun tidak signifikan pengaruh Rusia dirasakan sebagi ancaman utama Amerika setelah Cina, berpihaknya Rusia terhadap sejumlah negara yang berseberangan dengan AS semakin membuktikan bahwa Rusia sedang membangun poros yang menguntungkannya.
Rusia bahkan berani memfasilitasi negara-negara yang menjadi musuh Amerika seperti dalam kasus Iran dan nuklirnya. Sudah menjadi rahasia umum bahwa Rusia lah yang menyediakan alat produksi bagi pengayaan Uranium yang dilakukan Iran. Juga keterlibatan secara politik dalam sejumlah dukungan terhadap Negara-negara penentang AS, seperti Korea Utara, Venezuela, Kuba dan lain-lain.
Karena Minyak
Akar persoalan Konflik di Ossetia Selatan sebenarnya disebabkan oleh terganggunya kepentingan Amerika atas produksi minyak yang melewati kawasan tersebut. Georgia bukanlah negara penghasil minyak akan tetapi ia terletak di titik pengiriman minyak bumi dari Kaspia dan Asia Tengah menuju Eropa dan Amerika Serikat (AS). Lebih pentingnya lagi, rute pipa ini berasal dari daerah produsen minyak seperti Rusia dan Iran.
Jalur pipa yang terbentang sepanjang 1770 km antara Baku-Tblisi-Ceyhan (BTC) yang baru saja diresmikan tahun lalu mampu mengirim sekitar 1 juta barel minyak bumi per hari dari Baku di Azerbaijan menuju Yumurtalik di Turki, sebelum dimasukkan ke kapal tanker untuk dikirim ke Eropa dan AS. Sekitar 249 km pipa tersebut melewati Georgia, dan hanya 55 km pipa tersebut melewati Ossetia Selatan.
Jalur pipa ini begitu penting bagi Amerika karena ia mengurangi ketergantungan dunia Barat dari minyak yang dihasilkan Timur Tengah dan Rusia. Maka tidak heran bila Amerika mati-matian membela posisi Geogia dihadapan Rusia karena memang AS punya kepentingan jangka panjang untuk menjadikan Georgia sebagai negara satelitnya yang dapat menjaga kepentingan negeri Paman Sam tersebut di kawasan Asia Tengah.
hal ini sekali lagi membuktikan kepada dunia bahwa Amerika lah yang selalu berada di belakang setiap krisis yang terjadi di dunia. (dari berbagai sumber)



Bush-busk apa nasib mu anak, tidak berubah haluan ibarata sebelas dan dua belas bila McCain juga terpilih lagi nanti…..
akurat, tepat dan terpercaya.
selayaknya penempatan permasalahan ini dikembalikan lagi sesuai dengan historis kepentingan USA terhadap suatu entitas negara baru. kepentingan kuat USA merupakan suatu keinginan dalam rangka mengendalikan poros kepemimpinan internasional; menggalang opini internasional dalam menggapai kepentingannya. eh malam community
assalam..
pa kaabr nya nech..
gmn kalo tukaran link nya.. add kan web sy ke daftar teman nya ya.. jgn lupa untuk mengaddkan web anda ke daftar link saya jg..:D:D thanks..
bang ada pr nih…jangan lupa dikerjakan ya!
http://www.syahur.co.cc/2008/09/ten-random-factshabits-about-syahuri.html
Oh, kapalo teuh amirika nyan, dumpu i pajoh keu jih…
cit meunan nyan amerika, kaplat that
infonya mantap ngen..
ho yang tajak na bayangan CIA, MOSSAD, NATO…hek deh.!
pajan teuma jaya khalifah islam..
Kalau antara Rusia dan AS, Abu lebih suka AS walau paleh tapi lebih manusiawi dari Rusia…