Amrozi cs, Dalang atau Sekedar Wayang…

28 November 2008

INDONESIA-ATTACKS-COURT-FILESDitengah maraknya protes dari berbagai elemen masyarakat Islam, khususnya Indonesia. Akhirnya, 9 November 2008 sang terpidana mati Bom Bali I Amrozi dkk di eksekusi mati oleh regu tembak dari Brimob di Lapas Nusakambangan. Seperti yang telah diduga pasca eksekusi simpati dari berbagai kalangan justru semakin kuat mengiringi kepergian Trio dari Tenggulun tersebut. Akan tetapi sebagian kalangan menganggap fenomena seperti ini wajar mengingat belum sepenuhnya perkara ini dapat dibuktikan di pengadilan.

Simpati yang begitu besar terlihat jelas Ketika jenazah dipulangkan kekediaman untuk dimakamkan, ratusan pelayat terlihat membanjiri area ke arah pemakaman diiringi dengan seruan takbir dan bentangan sejumlah spanduk yang intinya menyiratkan bahwa Amrozi cs mati syahid.

Sebagian pihak yang menginginkan Amrozi dieksekusi mengaku puas, bahkan pemerintah Australia langsung merespon melalui kedubesnya di Indonesia. Pihak keluarga korban dari indonesia berkali-kali diwawancarai oleh media tentang perasaannya setelah eksekusi berlangsung, dan rata-rata menjawab puas atas kebijakan pemerintah indonesia yang bersedia memberikan izin eksekusi.

Meskipun sebelumnya sempat memicu perdebatan hangat akan urgensinya eksekusi, hingga berujung pada terbelahnya sikap keluarga korban dari Australia akan keputusan yang di jatuhkan antara pantaskah diesekusi atau cukup hanya sampai pada hukuman seumur hidup. Toh, hukuman tembak mati tersebut tetap dijalankan.

Sekalipun menyisakan berbagai misteri, rela atau tidak Amrozi cs sudah dieksekusi dan tidak menutup kemungkinan mereka sudah bahagia di alam sana, ini dapat ditelusuri dari sejumlah keterangan saksi yang ikut memandikan jenazah ketika akan dipulangkan, menurut pengakuan mereka jenazah mengeluarkan bau harum dengan mimik wajah yang tersenyum.

Pemberitaan Media yang Berlebihan

Jauh sebelum eksekusi dilaksanakan, berita tentang amrozi yang akan dieksekusi telah digembar-gemborkan oleh sejumlah media baik cetak maupun elektronik. Berita ini dianggap seksi oleh media karena melibatkan korban luar negeri yang banyak dan sekaligus para tertuduh adalah muslim taat.

20071013100633-nurokhman-amrozi-cs-11

Beberapa stasiun televisi bahkan khusus menyajikan rewind tentang sepak terjang Amrozi dan teman-temannya lengkap dengan tempat ia mondok dulunya ketika belajar agama, sejak kasus Amrozi pesantren ini memang telah dijadikan target pengopinian terhadap teroris di Asia Tenggara.

Menjelang eksekusi pemberitaan pun semakin kencang, setiap berita televisi selalu menayangkan kabar terakhir tentang Amrozi dan teman-temannya. Bahkan seperti ada tekanan dari media terhadap pemerintah untuk secepatnya melaksanakan eksekusi dengan pemberitaan yang mendesak disertai intervensi seperti pada pembentukan opini yang berulang-ulang tentang mengapa eksekusi Amrozi ditunda-tunda.

Bukan Bom Karbit-an

Diakui atau tidak sampai saat ini belum ada satu buktipun yang menunjukkan bahwa Amrozi dan teman-temannya mampu membuat bom dengan daya ledak yang cukup tinggi seperti yang terjadi di Legian Kuta Bali, bahkan jauh-jauh hari kepala Staf Angkatan Darat saat itu Jenderal Ryamizard Ryacudu telah memberikan statemen bahwa bom tersebut adalah produk luar negeri.

Pengakuan salah satu saksi mata yaitu kapten Rodney Cox seperti yang dimuat situs resmi militer Australia November 2002 menjadi pembuka awal dari fakta ledakan, bahwa saat ledakan terjadi ia berada 50 meter dari pusat ledakan di Sari Club, pada saat itu ia menyaksikan bahwa lampu mati dan listrik padam total di area pantai Kuta tersebut. Kesaksian ini mengundang kecurigaan sejumlah pakar bahwa bom yang meledak di Bali adalah bukan jenis potasium atau karbit seperti pada pengakuan Imam Samudra di pengadilan.

Adalah Joe Vialls investigator Independen dari Australia yang secara gamblang menyatakan melaui analisisnya menegaskan bahwa bom yang meledak itu bukanlah jenis karbit bahkan lebih dahsyat dari C-4, jelas keterangan ini membantah hasil temuan Puslabfor Mabes Polri yang pada saat itu menyatakan bom tersebut adalah berjenis C-4 walaupun dikemudian hari diralat lagi menjadi jenis TNT atau RDX.

Senada dengan Joe Vialls mantan Kabakin Alm. ZA Maulani saat menjadi tim investigasi MUI sempat menggolongkan bom tersebut sebagai SADM (Special Automic Demolition Munition) atau yang lazim di sebut mikro nuklir.

Terlebih lagi sampai ketiga terpidana dieksekusi tidak pernah ada uji lapangan seberapa besar sebenarnya ledakan yang diakibatkan oleh bahan potasium klorat yang menurut keterangan Polisi dipakai oleh terpidana untuk meledakkan Sari Club. Yang pernah diperagakan adalah cara merakit bom oleh Ali Imron, dan itu hanya teori sedangkan hasil akhir dari rangkaian itu tidak pernah di uji coba.

Dari Mana Uang Untuk Eksekusi?

Tanpa menutup mata tentu biaya yang dikeluarkan untuk eksekusi tidaklah sedikit, kabar yang begitu santer menyatakan bahwa biaya yang dikeluarkan mencapai 22 Milyar Rupiah. Konon dana ini disumbangkan oleh pemerintah Australia (Media Ummat 21/11/2008 hal. 7) untuk membiayai keperluan eksekusi seperti helikopter yang mondar-mandir ke Nusakambangan selama beberapa hari, juga untuk biaya pengamanan dan ambulans.

Yang pasti baik Polri maupun Depkum HAM menolak mengaku pernah mengeluarkan dana sebanyak itu, kedua institusi tersebut mengaku hanya mengeluarkan biaya operasional biasa (rutin, red).

Lantas benarkah Amrozi cs adalah pelaku satu-satunya? atau hanya korban dari sebuah propaganda besar? sampai saat ini hanya Allah SWT yang tahu, yang jelas Ali Imron sang arsitek bom yang seharusnya bertanggung jawab terhadap aksi tersebut hanya dihukum seumur hidup, dia bahkan pernah dipergoki wartawan kongkow-kongkow dengan Komjen Pol Gories Mere di kafe Starbuck di Jakarta dan ketangkap basah makan bersama dengan Petinggi Densus 88 Brigjen Pol Surya Dharma di rumahnya di kawasan Lebak Bulus. (di rangkum dari berbagai sumber)

Entry Filed under: Artikel. Tag: , , , .

10 Comments Add your own

  • 1. Aulia  |  28 November 2008 at 12:21

    saya jadi pusing lihat trio cs itu

  • 2. ataherster  |  28 November 2008 at 13:02

    tidak tahu siapa yang benar

    Tidak ada yang jelas pada kasus terorisme..semuanya selalu berhubungan dengan konspirasi..ya selama opini masih diperlukan…

  • 3. zulham  |  28 November 2008 at 20:30

    Ada udang di balik batu…

  • 4. husmu  |  29 November 2008 at 00:13

    Akhir zaman….Islam makin dikekang,,,,,dituduh teroris dan disudutkan,,,,,,,hati-hatilah kita,,,,,agama tidak dihancurkan dengan bom, tapi diri kita sendiri yang menghancurkannya dengan tidak peduli lagi menuntut ilmu……semoga aja kita mendapat rahmat-Nya…

    setuju..!

  • 5. muhammadilham  |  1 Desember 2008 at 23:07

    Kalo kata ahli forensik, gak mungkin Amrozi CS bkin bom sedahsyat yang meledak di Bali.
    Saat persidangan, salah satu tersangka ditanya:
    “apakah mereka memang merancang bom sedahsyat itu di Bali?”

    Mereka menjawab: “Saya tidak menyangka bom saya bisa meledak sehebat itu. Mungkin ada campur tangan malaikat disana. Allahu Akbar!”

    Kelihatannya ada tersangka lain selain Amrozi cs.

    PErlu diketahui:
    Arozi CS sudah minta maaf atas sikapnya mengebom Bom Bali. Dia khilaf bahwa hal ini (mengebom di tempat kaum muslimin berada atau di negeri yang orang asing keamanannya dijamain (kafir dzimmi)) tidak boleh.

    Karena itu, semoga Allah mengampuni dosa mereka. Dan menerima amal ibadah mereka.
    Adapun kita, tidak sebaiknya mencaci maki lagi mereka. Tapi jangan juga mencontoh mereka.

    Baca artikel saya ya

  • 6. omiyan  |  2 Desember 2008 at 03:51

    Al-Quran telah membuktikan kebenarannya sekarang

    http://bungaliani.wordpress.com/2008/12/02/fenomena-alam-bulan-dan-bintang-membentuk-wajah/

  • 7. winoto  |  4 Desember 2008 at 02:27

    Bagus ulasannya, dan mari kita hati-hati jangan terpedaya oleh musuh-musuh Islam. Terorisme itu hanya perang pikiran dan propaganda. Jika JI dan Al-Qaida itu hnya isu dan organisasi fiktif karangan amerika, maka terorisme yang selalu dialamatkan kepada mereka dan muslimin adalah hnya fitnah dan sandiwara, termasuk drama-drama penanganan terorisme adalah sandiwara.
    http://satoewarna.com/?satoewarna=index&winoto=base&action=listmenu&skins=1&id=126&tkt=1

  • 8. Yenni  |  4 Desember 2008 at 03:30

    Mereka hanya kambing hitam….

    Btw, it’s great article. May I link your blog?
    And join me at http://yennioctarina.blogspot.com

  • 9. hmm  |  16 Desember 2008 at 05:10

    yang penting kita harus bisa bedakan yang mana yang salah en benar

  • 10. ressay  |  18 Desember 2008 at 00:43

    teroris.

Leave a Comment

Required

Required, hidden

Some HTML allowed:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Komunitas

Haba Peuneurah

Ke-absurditas-an sebuah wacana selalu bisa di ukur dengan realitas yang mengikutinya..namun menyamakannya dengan "ilusi" jelas sebuah kebodohan (hormat saya Ferza)

Buleun Nyoe…

November 2008
S S R K J S M
« Agu   Des »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930

Kategori

…poh cakra…

Peu Saboh Hatee

Syedara Lon

Media