Perlukah Berharap Pada Obama?
17 Desember 2008
Harapan dan perubahan (hope and chance) merupakan dua jenis suku kata yang paling diminati para politisi dalam berkampanye tidak terkecuali Barrack Hussein Obama. Bagaikan sebuah mantra sihir, berkat dua suku kata inilah Obama berhasil mendulang poin untuk menuju tampuk presiden Amerika Serikat periode 2008/2014 sekaligus mengukuhkan diri sebagai presiden kulit hitam pertama di negeri Paman Sam tersebut.
Ditengah situasi dan kondisi yang serba tidak pasti pasca berkuasanya George W Bush perubahan memang menjadi sesuatu yang mutlak diperlukan untuk menyelamatkan masa depan Amerika dari berbagai krisis yang mendera. Negara “Adi Daya” itu kini ibarat pasien yang tengah menderita penyakit amat kronis sehingga bukan hanya pemberian obat yang diperlukan tapi juga sekaligus harus dilakukan pembedahan untuk mengangkat akar penyakit tersebut.
Keadaan ini segera dimanfaatkan Obama untuk menggiring opini publik ke arah harapan dalam menyelamatkan Amerika di masa depan, dan seperti yang kita lihat semuanya “laku keras”. Sebagaimana dimaklumi bersama bahwa “Negara Cowboy” itu sejak di pimpin oleh Bush telah menjelma menjadi Negara paling di benci di dunia bahkan oleh rakyatnya sendiri, hal ini disebabkan oleh kebijakannya yang selalu kontroversial seperti perang melawan terror (penjajahan) di Afghanistan dan Irak yang selama 7 tahun terakhir tidak menunjukkan tanda-tanda akan berakhir, penguasaan dan intervensi pada sumber daya alam di dunia ketiga dan sejumlah kebijakan tidak populis lainnya.
Beberapa pertimbangan tersebut mampu menjadikan Obama mempunyai nilai tawar yang tinggi di mata masyarakat Amerika bahkan dunia. Banyak pengamat yang memuji-muji sosok Obama karena memiliki beberapa perbedaan daripada pendahulunya diantaranya karena Obama merupakan presiden pertama Amerika berkulit hitam, ayahnya merupakan seorang muslim Kenya, pernah tinggal selama +/- 5 tahun di Indonesia, mantan senator dan masih muda.
Peristiwa yang bagi sebagian kalangan sangat bersejarah adalah ketika Obama terpilih sebagai presiden menyingkirkan pesaing utamanya John Mc-Cain pada tanggal 5 november kemarin. Di mata sebagian orang fenomena ini mampu menjadi pertanda bagi perubahan paradigma Amerika ke depan dalam memandang dunia, hingga seakan tidak mau ketinggalan para politisi dan praktisi gerakan di Indonesia juga ikut memberikan komentar dan ucapan selamat yang rasa-rasanya terlalu berlebihan. Terlepas dari berbagai polemik yang ada, lantas benarkah dengan berkuasanya seorang Obama Amerika akan serta merta berubah seperti slogan Hope and Chance yang dikampanyekannya selama ini? Rasanya kita perlu pesimis!
- Amerika bukanlah Obama sendiri, Amerika adalah Negara yang dibangun dengan sebuah sistem yang teramat kompleks. Presiden adalah salah satu bagian dari sistem pemerintahan yang menjalankan mandat atas undang-undang yang dirancang dengan berbagai kepentingan sesuai asas kapitalisme.
- Semua yang kita dengar dari Obama selama kampanye hanyalah retorika politik yang tidak memiliki bentuk jelas, harapan dan perubahan (hope and chance) yang menjadi slogannya tidak pernah didefinisikan dengan pasti dan ditentukan. Kita patut bertanya perubahan apa dan untuk apa? Harapan yang bagaimana? Amerika lebih baik yang seperti apa? Lebih baik dengan cara bagaimana?, semua hanyalah permainan kata untuk mendongkrak popularitas khas gaya promosi Sekuler Demokratis.
- Isu kulit hitam sepertinya terlalu di blow-up sehingga seakan-akan rasisme yang selama ini bersarang luar biasa di Amerika akan dapat dihapuskan dengan serta-merta. Kita tentu tidak lupa dengan keberadaan sejumlah petinggi kulit hitam lain yang memiliki bargaining position cukup kuat di dalam pemerintahan Gedung Putih. Collin Powell dan Condoleeza Rice adalah contoh orang kulit hitam yang mempunyai kedudukan pada wilayah kebijakan, akan tetapi pada faktanya jabatan itu hanya kekuasaan pribadi yang tidak berimplikasi apapun pada penghapusan rasisme disana.
- Obama telah menyatakan tidak ada perubahan mendasar pada sistem ekonomi, ini artinya Amerika akan tetap menggunakan perangkat ekonomi neoliberal berbasis riba dengan menggunakan sektor non-real yang lebih mirip bandar judi besar dunia ketimbang transaksi ekonomi.
- Mengenai perang terhadap terorisme Obama juga akan tetap mengikuti jejak pendahulunya George Bush, tidak ada perubahan mendasar dalam isu ini. Bila sebagian orang mengatakan bahwa dia akan menarik tentara Amerika dari Iraq, memang tidak sepenuhnya salah (karena disana ada penguasa boneka yang dipimpin PM Nouri Al-Maliki) akan tetapi jangan lupa sebab Obama jelas akan menambah pasokan tentara ke Afghanistan.
- Hanya karena ber-ayah-kan seorang muslim sebagian orang melihat ini menjadi pertanda akan adanya perubahan kebijakan Amerika terhadap dunia muslim, bila itu yang menjadi patokan jelas terlihat keliru sebab Obama didalam kampanyenya terang-terangan mengatakan bahwa dirinya adalah penganut Kristen taat. Didalam pidatonya ketika memberi sambutan pada Forum AIPAC (organisasi persaudaraan Yahudi-Amerika) beberapa waktu lalu Obama juga mengatakan tetap akan mendukung penjajahan brutal tentara Israel pada wilayah Palestina, padahal jelas-jelas Israel bertujuan mendirikan Negara illegal di atas tanah Palestina. Lantas apanya yang spesial?
Amerika bukanlah Negara yang bersifat Monarki sehingga apapun titah Raja akan menjadi kebijakan Negara, keadaan tidak akan berubah selama kapitalisme yang dipimpin oleh Negara Paman Sam tersebut masih menjadi tatanan dunia.
Sejumlah krisis dan kesewenang-wenangan bukan semata-mata hanya berasal dari kebijakan salah para top leader Amerika tapi lebih karena kegagalan asas yang dipakai untuk melanggengkan terus hegemoni mereka. Fakta yang paling nyata sekarang akan kebobrokan kapitalisme jelas terlihat pada krisis ekonomi yang dideritanya, krisis tersebut jelas-jelas terjadi di jantung di mana ideologi ini diterapkan dengan paripurna. Sepatutnya kita sebagai kaum muslimin tidak layak berharap pada Negara yang menerapkan sistem kufur seperti itu.
Obama hanyalah sekedar presiden yang akan berlalu seiring dengan waktu, namun Amerika adalah sekumpulan pemahaman batil yang diimplementasikan pada sebuah Negara, dia akan tetap seperti itu sampai Allah SWT mempergilirkan kejayaan kepada kaum muslimin untuk menggantikan sistem yang bobrok itu dengan sebuah Negara yang akan melindungi hak-hak manusia seutuhnya yaitu Negara Khilafah. Maka berharaplah pada tatanan dunia yang insyaAllah sebentar lagi akan dipimpin oleh Daulah Khilafah Rasyidah seperti yang telah dijanjikan, bukan pada kafirun seperti Obama.
“Ada kenabian di tengah-tengah kalian. Dengan kehendak Allah, ia akan tetap ada, kemudian Dia pun mencabutnya, jika Dia berkehendak untuk mencabutnya. Kemudian ada kekhalifahan berdasarkan tuntunan Nabi, maka dengan kehendak Allah, ia pun akan tetap ada, lalu Dia mencabutnya, jika Dia berkehendak untuk mencabutnya. Kemudian ada penguasa yang zalim, maka dengan kehendak Allah, ia akan tetap ada, kemudian Dia pun mencabutnya, jika Dia berkehendak untuk mencabutnya. Kemudian ada penguasa diktator, maka dengan kehendak Allah, ia akan tetap ada, kemudian Dia pun mencabutnya, jika Dia berkehendak untuk mencabutnya. Kemudian akan ada khilafah berdasarkan tuntunan Nabi. Lalu, beliau pun diam.” (Musnad Imam Ahmad)
Wallahu’alam bi Ash Shawab.
Entry Filed under: Opini. Tag: demokrasi, kegagalan kapitalisme, Obama, pemilu amerika.
9 Comments Add your own
Leave a Comment
Some HTML allowed:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>
Trackback this post | Subscribe to the comments via RSS Feed






1.
ressay | 18 Desember 2008 at 00:42
Obama tidak akan membawa perubahan pada Iran dan negara-negara muslim lainnya.
Obama tidak jauh berbeda dengan setan besar bush.
Kapitalisme di ujung tanduk.
Imamah Ahlulbayt didepan mata.
2.
omiyan | 18 Desember 2008 at 04:52
saya sendiri ragu…..karena dia sendiri terus terang banget kalo yahudi adalah sekutu yang harus selalu didukung
3.
Syahuri | 18 Desember 2008 at 05:29
obama?
kelaut aje!
4.
tengkuputeh | 18 Desember 2008 at 13:28
Obama adalah bagian dari sistem AS. Tradisi mereka itu kuat. Abu ragu itu bisa berubah.
5.
Aulia | 31 Desember 2008 at 10:37
o ba n ma tabaca ob an ma……
6.
Yenni | 2 Januari 2009 at 09:19
Obama…wah Yahudi banget!
7.
liza | 3 Februari 2009 at 07:20
ngga perlu berharap sama obama
8.
kw | 8 Februari 2009 at 14:44
siapa emang dia? berharap pada orang yang hanya pernah numpang belajar beberapa bulan di jakarta?
cuih cuih….
9.
dhe | 28 Maret 2009 at 03:24
hikz.. lagi2 daku tak mengerti politik..
ga ngerti harus berharap apa..
berharap pada Tuhan aja lah^^
hehehehe