Menyapa Warga Rohingya I (Sabang)

1 Mei 2009

bersama-ust-marseno1

Bersama ust. Marseno

Siang itu (Rabu, 16/04/09) udara pelabuhan Balohan Sabang terasa panas menyengat, keadaan disekelilingnya berdebu dan semrawut. Wajar, pelabuhan memang dalam proses renovasi. Saya, ust. Ferdiansyah Sofyan (Ketua DPD II HTI Banda Aceh) dan ust. Marseno (Utusan Lembaga Wakaf Al-Qur’an) tiba ke sabang sekitar pukul 12.00 siang dengan membawa satu pick-up terbuka yang berisi logistik bantuan.

Namun mobil pick-up tersebut tidak bertugas mengantar logistik ketujuan karena kami hanya meminjam dan harus dikembalikan pada rute kapal selanjutnya. kemudian transportasi dari Balohan ke basis penampungan pengungsi di dermaga LANAL sepenuhnya di bantu oleh Dandim Sabang Letkol Iwan S sehingga kami tidak mengeluarkan sedikitpun cost untuk transportasi, terima kasih pak Dandim.

Maksud kedatangan kami adalah ingin berkunjung ke warga Rohingya yang terdampar di Sabang (selain di Sabang etnis Rohingya juga ada yang terdampar di Idi Rayeuk) sekaligus membawa bantuan dari Lembaga Wakaf Al-Qur’an Jakarta, mungkin kedengaran sudah telat karena sebelumnya juga sudah banyak bantuan berdatangan baik dari perseorangan maupun lembaga seperti solidaritas yang ditunjukkan warga Aceh Blogger beberapa waktu lalu.

lokasi-pengungsi

Gerbang LANAL Sabang

Ketika menapaki pintu gerbang tempat penampungan di dermaga LANAL Sabang, kita langsung disuguhi pemandangan memilukan pengungsi. Sebagai manusia mereka tentu sangat tidak pantas untuk hidup seperti sekarang tapi baik pihak TNI AL maupun pemerintah memang tidak punya pilihan lain selain tetap merelokasi mereka sampai permintaan pemulangan dari negara mereka keluar. Sampai bulan ketiga masa relokasi belum ada pengumuman resmi tentang status warga etnis rohingya ini bahkan Deplu menutup akses informasi tentang keterangan mereka kepada pers, maklum ini menyangkut isu sensitive yang dapat mempengaruhi hubungan kedua negara.

Berikut beberapa keterangan dan kesan yang saya dapat dari kunjungan singkat kami :

Bukan Hanya Muslim

Menurut keterangan mantan penanggung jawab keamanan pengungsi Bapak Rudi Wahono komunitas warga etnis rohingya ini tidak hanya beragama Islam tapi juga terdapat dua orang yang beragama Hindu dan Budha. Identitas mereka baru diketahui ketika penjaga LANAL mulai memberlakukan Shalat Subuh di lapangan dermaga LANAL. Ketika itu dua orang warga tersebut mengaku beragama non muslim, selama ini mereka menyembunyikan identitas karena takut dibunuh oleh temannya ketika berdesakan didalam perahu. Masih menurut keterangan pak Rudi memang ada sentiment keagamaan antar para etnis Rohingya di sebabkan oleh kebencian terhadap perlakuan semena-mena penguasanya yang notabene beragama Budha.

Asal-usul yang Simpang Siur

Setelah penyerahan bantuan secara simbolis oleh ust. Marseno kepada warga Rohingya, kami menyempatkan diri untuk duduk ngopi bersama beberapa orang penjaga yang kebetulan tidak dinas. Menurut keterangan mereka selama ini untuk pasokan sayur dan minyak goreng pengungsi selalu ditalangi secara rutin oleh pihak IOM (International Organitation for Migration) beruntung bagi kami karena kebetulan staff IOM yang bertanggung jawab juga ikut ngopi sehingga kami bisa bertanya lebih detail tentang kondisi pengungsi.

Staff IOM tersebut menceritakan bahwa tidak semua pengungsi berwarga negara Myanmar seperti dugaan awal akan tetapi sebagian juga berasal dari Bangladesh dan sekitarnya, hal itu terungkap ketika salah satu lembaga PBB yang bekerja untuk memulangkan pengungsi mewawancara satu-persatu dari warga Rohingya. Menurutnya warga yang berasal dari Bangladesh mengaku bahwa langkah eksodus ditempuh karena dilatarbelakangi oleh keinginan untuk memperbaiki nasib, berbeda dengan warga yang berasal dari Myanmar mereka mengaku eksodus dilakukan semata-mata karena penindasan pemerintah Junta Militer. Namun hal itu juga masih simpang siur karena setiap kali wawancara diulang keterangan mereka selalu berbelit-belit dan tidak konsisten, secara psikologis warga Rohingya memang masih menderita shock akibat perlakuan biadab militer Thailand beberapa waktu lalu.

Kuli dan Buruh Panggul yang Sulit di Atur

Sebagian besar dari mereka adalah kuli dan buruh panggul yang tidak pernah merasakan kesejahteraan hidup, keadaan ini terlihat jelas dari perilaku mereka sehari-hari yang jauh dari kesan masyarakat terpelajar. Dengan mata kepala saya melihat mereka memanggul shak beras kegudang dengan cara berlari sekitar 100 m padahal pada saat yang sama terdapat kendaraan angkut yang sedang melakukan aktifitas serupa, sungguh bagi saya ini merupakan pemandangan tidak biasa.

Didalam keterangan lanjutan mantan penanggung jawab keamanan pengungsi pak Rudi, beliau berkisah pernah suatu hari mereka disuruh untuk mengaduk semen untuk pembuatan dapur tempat mereka memasak, kemudian olehnya mereka di ajari cara mengaduk semen yang benar akan tetapi anehnya mereka tetap mengaduk dengan tangan tanpa mau menggunakan alat bantu yang disediakan seperti skop atau cangkul. Masih menurutnya, banyak diantara mereka juga tidak mengerti cara berbagi dengan teman atau bahkan sulit diatur, seperti tetap mencuri walaupun itu adalah barang sesama warga pengungsi.

Fenomena tersebut menurutnya wajar mengingat sejak lahir mereka sudah diperlakukan bagai binatang oleh pemerintahnya sehingga perkembangan secara psikologis komunitas seperti ini biasanya berbeda dengan masyarakat urban pada umumnya, sekilas perilaku mereka memang terlihat menyerupai masyarakat yang tidak pernah tersentuh peradaban.

web-2

Suasana Tenda Pengungsi

Renungan

Warga etnis Rohingya adalah manusia yang tidak diakui keberadaannya di Myanmar, dalam berbagai keterangan yang pernah saya dapatkan bahkan pemerintah Junta Militer Myanmar ingin melenyapkan secara permanen etnis ini dari negaranya. Namun, perlakuan subvertif dan kekejaman penguasa kafir terhadap warganya yang muslim memang tidak hanya terjadi di Myanmar saja seperti dalam kasus etnis Rohingya akan tetapi kerap kali juga terjadi pada sejumlah negara lain yang berpenduduk muslim minoritas.

Sekitar pukul 15.30 kami harus beranjak meninggalkan lokasi pengungsian, didalam hati saya masih menyimpan keprihatinan yang cukup mendalam terhadap kondisi para saudara kita ini. Mereka memang di lahirkan tidak se-beruntung kita dan sebentar lagi juga akan dipulangkan kembali ke negara asalnya, tidak ada kecaman atau keprihatinan dunia Internasional mengiringinya, akan tetapi mereka tetap saudara kita yang dengannya di akhirat kelak ALLAH SWT akan bertanya “apa yang pernah kamu lakukan untuk menolong mereka ?”.

slide1

Penyerahan Bantuan Secara Simbolis oleh ust. Marseno

( Kunjungan kami selanjutnya adalah ke Idi Rayeuk, Aceh Timur )

Entry Filed under: Kegiatan. Tag: , , , .

3 Comments Add your own

  • 1. Aulia  |  2 Mei 2009 at 10:01

    Tidak ada kata telah bang untuk membantu sesama, kita tetap beri yang terbaik untuk sesama muslim.

    Mari membantu :)

  • 2. zulham  |  30 Juni 2009 at 20:37

    Bang tulisan droe neuh mantap! ni update laju lom!

  • 3. Arifin Sabang-Langsa  |  8 Juli 2009 at 21:32

    Aslmkm,,, bang Ferza photo kita di ronghiya di aceh timur ngk di posting? bang minta tolong kirim photo yg di aceh timur ke Arifinkamupi@yahoo.co.id Ya….. jazakallah khairan khatsiran

Leave a Comment

Required

Required, hidden

Some HTML allowed:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Komunitas

Haba Peuneurah

Ke-absurditas-an sebuah wacana selalu bisa di ukur dengan realitas yang mengikutinya..namun menyamakannya dengan "ilusi" jelas sebuah kebodohan (hormat saya Ferza)

Buleun Nyoe…

Mei 2009
S S R K J S M
« Apr   Jul »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

Kategori

…poh cakra…

Peu Saboh Hatee

Syedara Lon

Media