Jangan Bawa-Bawa Islam?

12 Agustus 2009

hateSuatu hari saya bertemu dengan salah seorang praktisi/penulis dari salah satu partai lokal di Aceh, awalnya pertemuan ini karena permintaan saya di milisnya. Saya tertarik ingin bertemu karena pada satu kesempatan pernah menghadiri presentasi beliau dan jujur saya cukup terkesan dengan beberapa ulasan yang beliau paparkan.

Maksud dari pertemuan itu bagi saya untuk mendapatkan perkembangan terbaru dari aktifitas partai di  mana beliau sendiri sebagai staff ahli politik di dalamnya, saya berharap mudah-mudahan beliau dapat memberikan masukan-masukan terkait perkembangan politik di Aceh. Ketika saya memperkenalkan diri beliau langsung merespon baik disertai basa-basi dengan bertanya aktifitas sehari-hari, saya menjawab setiap pertanyaan beliau tanpa pikir panjang karena memang tidak ada yang istimewa dari setiap aktifitas harian yang terlakoni.

Saya menangkap keadaan sedikit mulai terasa berubah ketika saya menerangkan bahwa selama ini saya terlibat di salah satu gerakan Islam di Indonesia yang cabangnya sampai ke Aceh, hal tersebut sebenarnya juga karena pertanyaan beliau. Namun saya tidak ambil pusing, dalam pikiran saya mungkin beliau kurang suka gerakan saya ini tapi no problem lah. Biar keadaan tidak kaku saya kemudian memulai basa-basi dengan bertanya program terdekat dari partai lokal di mana beliau sendiri terlibat di dalamnya, akan tetapi tanpa saya duga ternyata beliau malah merespon seperti ini “persoalan Islam tidak perlu di tanyakan, itu semua tergantung individunya, Islam itu yang penting dalam hati dan tidak perlu diformal-formalitaskan segala”, demikian jawabnya.

Sampai  di sini saya langsung kaget, mengapa jawaban seperti ini yang keluar, padahal saya tidak hendak berbicara tentang Islam atau syariatnya. Saya bertanya-bertanya dalam hati apakah karena saya tadi mengaku sebagai salah satu dari anggota gerakan Islam (saat basa-basi), padahal saya tidak hendak bermaksud mempromosikan kelompok saya ataupun mengajak beliau untuk ikut didalamnya.

Lantas beliau sepertinya merasa enggan untuk berdiskusi selanjutnya dengan saya, bahkan dengan alasan sibuk beliau langsung pergi, sebelumnya beliau meminta agar saya menghubunginya di lain waktu bila masih tetap ingin ngobrol bareng. Memang pada saat itu di café tempat kami bertemu sedang berlangsung festival band hingga sangat mengganggu pembicaraan karena harus teriak-teriak ketika berbicara, tapi apakah karena hanya itu, wallahu’alam mungkin juga ya.

Namun saya tidak hendak membicarakan keengganan beliau ngobrol atau terganggunya pembicaraan kami karena festifal band yang tengah berlangsung, akan tetapi ada yang sedikit mengganjal di hati saya tentang sepenggal jawaban dari kata-kata beliau di atas.

Sebenarnya saya tidak terlalu terkejut dengan pernyataan itu, hanya terasa sangat menganggu. Gaya berpikir seperti ini bukanlah hal baru atau bisa di katakan kita sudah sangat sering mendengarnya, tidak ada yang istimewa darinya.  Pola pikir seperti ini adalah corak khas dari sifat sekuler yang mendarah daging, bagi orang yang menganut kepercayaan ini  agama bukanlah hal yang perlu di bawa-bawa ke ruang publik untuk diikutsertakan dalam kehidupan, bagi mereka agama cukup hanya di taruh dalam salah satu lembaga yang bernama KUA (Kantor Urusan Agama).

Yang sangat disayangkan adalah keberadaan para sekularis “ortodoks” bergama Islam di tengah-tengah umat, mereka seakan-akan lupa bahwa terdapat perbedaan yang mencolok dari sisi empiris dan historis antara peradaban Islam yang agung dengan peradaban Kristen eropa yang kelam di mana kemudian ide-ide sekularisme di lahirkan. Maka Konsekuensinya kemudian mereka ini harus bersikap eksklusif dalam menerima wacana keagamaan apalagi bila hujjahnya kuat alih-alih menyerukan pola inklusifisme pada umat Islam.

Sering saya merasakan bagi kebanyakan tokoh “karbitan” (domplengan lembaga-lembaga luar) cenderung mengalami syndrome para pemikir liberal sehingga bagi mereka membicarakan Islam sebagai sebuah sistem adalah sesuatu hal yang tidak berguna dan buang-buang waktu apalagi bila yang di ajak bicara adalah anggota dari salah satu kelompok gerakan Islam jelas akan menimbulkan alergi yang amat sangat.

Lalu benarkah Islam dan perangkat syariatnya tidak harus di formalkan? Sehingga hanya cukup di amalkan dalam bentuk keyakinan personal saja!

Sekali lagi ini adalah pandangan yang sangat keliru, bagaimana mungkin seperangkat  aturan hukum dapat diterapkan oleh manusia secara personal. Mendudukkan Islam hanya sebagai agama ritual jelas merupakan pengkebirian terhadap Islam itu sendiri, karena tidak mungkin hukum persoalan riba, sanksi, pengangkatan Imam, hukum seputar jihad dan sebagainya  bisa diterapkan hanya sebatas di dalam hati?

Membahas Islam sebagai sebuah agama menuntut kita untuk tidak berhenti pada wilayah ibadah individual karena Islam juga memuat sejumlah besar pengaturan kehidupan layaknya sebuah ideologi (pandangan hidup). Sebagaimana diketahui secara umum Islam mengatur tiga aspek interaksi yaitu mengatur interaksi antara makhluk dengan tuhannya, mengatur hubungan makhluk dengan dirinya sendiri dan mengatur pula hubungan dirinya dengan sesamanya. Maka sebagai seperangkat aturan hidup yang lengkap tentunya Islam tidak boleh di amalkan setengah-setengah berdasarkan hawa nafsu. Akan sama saja menolak atau mengambil sebagian, sebagai contoh :[i]

Kufur tehadap ayat,

“dirikanlah Shalat”

Sama saja kufur terhadap ayat,

“padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba” (TQS. Al-Baqarah [2]: 275).

Atau ayat,

“laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya” (TQS. Al-Maidah [5]: 38)

Juga ayat,

“diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, dan (daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah” (TQS. Al-Maidah [5]: 3).

Kiranya saya tidak perlu lagi membahas panjang lebar tentang kebenaran dan kelengkapan Islam sebagai sebuah perangkat sistem dalam tulisan ini, karena seperti kita ketahui bersama telah sangat banyak literatur-literatur tentang kempurnaan Islam yang di tulis oleh orang-orang faqih beredar di sekitar kita baik berupa artikel lepas di media, buku-buku kontemporer, maupun kitab- kitab karya ulama klasik yang biasanya telah di terjemahkan ke dalam berbagai bahasa di dunia. Sungguh mengingkari Islam sebagai sistem akan sama dengan mengingkari bahwa matahari itu terbit di timur dan tenggelam ke barat, disebabkan sudah begitu terangnya persoalan tersebut bagi kita.

Maka bukankah begitu  mengherankan bila di abad sekarang masih saja ada orang Islam yang menganggap ajaran Islam itu parsial (tidak menyeluruh), hanya semata-mata karena silau dengan peradaban barat! Sebenarnya sadar atau tidak mereka telah menjelma menjadi antek-antek yang mencari sensasi dan popularitas dengan melawan arus utama demi secuil dunia yang telah di janjikan oleh para majikannya melalui grand design sekularisasi kaum muslimin di belahan Negara-negara dunia ketiga.


[i] Lihat Peraturan Hidup dalam Islam, bab Jalan Menuju Iman hal 17, karya Taqiyuddin an Nabhani, Pustaka Thariqul Izzah, 2003.

Entry Filed under: Opini. Tag: , , , , , .

2 Comments Add your own

  • 1. adikcilak  |  14 Agustus 2009 at 04:33

    betoi nyan yang tengku paparkan..
    lon pih setuju.. rame jino yang mengenakan jubah kesekuleran..
    cukop parah ka awak nyan..
    semoga Allah geubri hidayat ke ureung lagee nyan..

    Insyaallah..mudah2an..ta meu doa keu ureung lagee nyan bek sampoe an akhee mantong meunan…

  • 2. acehpromoweb  |  1 Oktober 2009 at 15:43

    mantap bos Ferza…jangan lupa kunjungi kami ^_^

Leave a Comment

Required

Required, hidden

Some HTML allowed:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Komunitas

Haba Peuneurah

Ke-absurditas-an sebuah wacana selalu bisa di ukur dengan realitas yang mengikutinya..namun menyamakannya dengan "ilusi" jelas sebuah kebodohan (hormat saya Ferza)

Buleun Nyoe…

Agustus 2009
S S R K J S M
« Jul    
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  

Kategori

…poh cakra…

Peu Saboh Hatee

Syedara Lon

Media